Peter Eckersall

 

Rakyat.co, Jakarta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kembali menggelar festival internasional seni pertunjukan kontemporer

ART SUMMIT INDONESIA, Minggu,(23/10).
Pada gelaran ke-8 untuk tahun ini, Art Summit Indonesia (ASI) dalam tema “Membaca Ulang Peta dan Perubahan Dunia Seni Pertunjukan”.
Gelaran kali ini diselenggarakan secara berkesinambungan dalam dua tahun, 2016 dan 2017.
Program tahun 2016, ASI mengadakan lokakarya dan ceramah publik tentang ‘dramaturgi’ oleh Peter Eckersall (USA) di Dia.Lo.Gue Artspace, Jakarta.
Lokakarya bertema Dramaturgi Baru, diadakan intensif selama lima hari pada 18-22/10 2016, diikuti oleh dua puluh lima peserta terpilih yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Agenda ini merupakan lokakarya dramaturgi seri kedua.
Seri pertama oleh Ugoran Prasad (Yogyakarta-New York), dengan peserta yang sama, yang telah diadakan pada awal Agustus lalu di Kinosaurus, Jakarta.

Dalam ceramahnya, Peter Eckersall akan membahas tentang kerangka ‘dramaturgi baru’ (new dramaturgy) dalam perkembangan seni pertunjukan dunia, beberapa cuplikan pertunjukan yang mengilustrasikan tren ‘nalar dramaturgi baru’ seperti: kelintasdisiplinan (interdisciplinarity), percampuran (hybridity) dan anti-teatrikalitas (anti-theatricality).

Ia juga akan membahas bagaimana dramaturgi ‘sosial’ dan ‘yang sehari-hari’ telah berkait-kelindan dengan pertunjukan-pertunjukan itu.
Ceramahnya akan berujung pada pembahasan tentang minat yang meningkat perihal dramaturgi dalam lanskap seni pertunjukan kontemporer Asia.
Peter Eckersall adalah Professor of Theater and Performance di Graduate Center, City University of New York.

Karya Peter berkisar di praktik pertunjukan kontemporer di wilayah Australasia dan Eropa, dengan fokus ketertarikan pada dramaturgi dan pertunjukan Jepang.
Karya-karyanya yang dipublikasikan antara lain:
We’re People Who Do Shows, Back to Back Theatre: Performance, Politics, Visibility (co-edited with Helena Grehan, Performance Research Books, 2013), Theatre and Performance in the Asia-Pacific: Regional Modernities in the Global Era (ditulis bersama Denise Varney, Barbara Hatley dan Chris Hudson, 2013) dan Performativity and Event in 1960s Japan: City, Body, Memory (2013).
Monografnya yang baru, New Media Dramaturgy (ditulis bersama Helena Grehan dan Edward Scheer) akan diterbitkan oleh Palgrave di tahun 2016. Peter adalah salah satu pendiri Dramaturgies (bersama Paul Monaghan dan Melanie Beddie), dan juga dramaturg mukim di grup pertunjukan kontemporer yang berbasis di Australia, Not Yet It’s Difficult. [fiq]

sumber: Art Summit Indonesia