Pameran Cergam Medan

 

Rakyat.co,-Jakarta. Pameran cerita bergambar (Cergam) Medan, penelitian awal komik Medan dan mengenalkan Cergam Medan, di Bentara Budaya 8-18/12.

 

Cergam Medan menjadi sebuah aliran yang jadi “bisik-bisik” penuh kekaguman di kalangan kolektor, peneliti,para kreator muda. Nama-nama komikus legendaris seperti Taguan Hardjo dan Zam Nuldyn mulai mencuat dalam pembicaraan.

 

Arswendo Atmowiloto, yang mengenalkan kembali Cergam Medan pada publik luas di Indonesia. Setelah itu, penerjemahan disertasi Marcell Bonneff, komik Indonesia terbit pada tahun 1998 mengenalkan lebih jauh Cergam Medan.

 

Belum ada penelitian lebih mendalam tentang aliran komik yang unik dalam sejarah Indonesia ini, kecuali pada tahun 2015, Koko Hendri Lubis mengeluarkan sebuah buku penelitian awal komik Medan, sejarah cerita bergambar di Indonesia yang diterbitkan secara terbatas.

 

Maka, beberapa penggemar komik, kolektor, peneliti dan aktivis komik,berinisiatif untuk mendalami ,mengangkat kembali Cergam Medan ke publik Indonesia masa kini.Cergam Medan adalah sebuah periode kreatif yang sangat kaya dengan capaian estetika seni komik yang unggul dalam sejarah Indonesia dan sayangnya nyaris tenggelam dalam sejarah,artefak-artefaknya pun tak lagi tersimpan dengan baik.

 

Perlunya membangun kesinambungan historis antara situasi kreatif masa kini dengan situasi dan capaian kreatif Cergam Medan sehingga ada semacam rujukan kaya tentang apakah yang bisa dicapai oleh komik Indonesia.Dalam periode relatif pendek, antara 1950-an hingga 1960-an, Cergam Medan menghasilkan karya-karya komik dengan kesadaran sastrawi dan seni gambar bernilai tinggi.

 

Pada 13 Februari 2016, Forum Cergam yang terdiri dari Pusat Kajian Narasi Visual Fakultas Seni Rupa IKJ, Forum Kaji Cergam, Pabrikultur, Cakrapolis, Akademi Samali dan beberapa perorangan menaruh minat pada perkembangan Cergam, mengadakan FGD Pemetaan Awal Cergam Medan.
FGD tersebut menghadirkan Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Ajidarma, Henry Ismono, Andy Wijaya, dan Koko Hendri Lubis menyajikan cuplikan temuannya dalam penulisan buku biografi Taguan Hardjo. Akhirnya, rencana Pameran Cergam Medan ini disusun, dengan berbasis riset Henry Ismono, Lintasan Cergam Medan dan Koko Hendri Lubis. Mengenal Kembali Taguan Hardjo, langsung dari hati yang akan diluncurkan juga sebagai bagian dari rangkaian acara.
Taguan Hardjo tetap dikenal jauh setelah periode Medan, hingga awal 2000-an. Zam Nuldyn menjadi legenda dengan mutu gambar realis dan kisah-kisah fantastis yang diangkat dari folklore. Banyak nama lain, seperti B. Djas, Bahzar, M. Ali, dsb. menanti ditemukan kembali. (Rafiq)

Sumber: Akademi Samali