Indonesia Dapat Memimpin Produksi Film di ASEAN

Rakyat.co,-Jakarta. Direktur Festival AIFFA menyatakan bahwa kreativitas,kebudayaan dan kedalaman sejarah Indonesia dapat membawa pengaruh besar di ASEAN , Livian Tajang dalam konferensi pers AIFFA, Selasa ,(7/03) di Cikini.

ASEAN Internasional Film Festival & Award 2017 (AIFFA) menggelar road show di Jakarta dan mengundang pembuat film Indonesia untuk menggunakan festival ini sebagai landasan untuk membuat pengaruh besar di Negara-negara ASEAN yang merayakan hari jadi ke-50 tahun ini. Direktur festival AIFFA Livan tajang menyatakan populasi Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa merupakan lebih dari satu pertiga populasi ASEAN yang saat ini berjumlah total 600 juta jiwa. Indonesia idealnya siap untuk memamerkan bakatnya kepada penikmat film dalam jumlah besar,sebagai negara yang selama berabad-abad telah dikenal di seluruh dunia sebagai negara yang memiliki warisan budaya dan seni. Orang-orang Indonesia juga memiliki sinergi alami dalam memahami kesamaan yang terdapat dalam satu daerah dan dapat membingkai wawasan ini menjadi film yang kuat”ungkap Livan Tajang.

Film festival dan penghargaan ASEAN International adalah kompetisi dua tahunan bagi para pembuat film dari 10 negara ASEAN. Festival ini mendapatkan pengakuan resmi oleh sekretariat ASEAN sebagai salah satu kegiatan bersama untuk kelompok regional.

Pertama kali diselenggarakan pada tahun 2013 dan kini merupakan edisi ke tiga, dikenal dengan nama AIFFA. Festival akan diselenggarakan di Kuching-Sarawak, Malaysia. Penilaian dilakukan oleh juri Internasional dan ASEAN,terbagi 16 kategori yang mencakup semua aspek utama dari bidang kreatif serta teknis pembuatan film. Lebih dari 100 film yang dikompetisikan untuk meraih penghargaan dan trofi AIFFA, akan diputar dalam festival tersebut pada 4-6 Mei 2017 di Kuching, Malaysia. Film-film tersebut akan dinilai oleh juri internasional dan dewan juri ASEAN, yaitu U Wei Saari/film director (Head juror), Maxine Williamson (International juror), Eddie Cahyono/film director (Indonesian juror), Laurice Guillen/film director (Philippine juror), dan Siti Kamaluddin/film director (Brunei juror).

AIFFA mengedepankan film untuk mempromosikan budaya, tradisi, dan kekayaan warisan budaya menuju ASEAN yang bersatu. AIFFA telah menjadi festival film yang dituju untuk menjangkau pasar ASEAN. Saat ini lebih banyak pemodal dan produser yang berpartisipasi karena mereka melihat potensi kawasan ini dalam menghasilkan konten yang luar biasa dan unik”jelasnya.

Program AIFFA tidak hanya mencakup tiga hari selama festival film berlangsung,namun ada juga serangkaian acara menuju festival yang sebenarnya akan diadakan bulan Mei. Program yang pertama adalah program Hollywood Masterclass selama tiga hari di Kuala Lumpur bagi para pembuat film muda dan media promosi di Kota Kinabalu-Sabah. Nona Livan Tajang menyatakan,bahwa pembuat film Indonesia akan mendapat manfaat dari menghadiri AIFFA di Kucing melalui sebuah peluang emas, yaitu AIFFA BIZ World yang pertama-sebuah kolaborasi antara AIFFA dan Southeast Asian Audio-Visual Association (SAVAA). Hal ini memungkinkan pembuat film untuk memanfaatkan SAVAA yang merupakan jaringan investasi media terbesar dikawasan ini dan terdiri produser kreatif,pemilik IP,distributor dan pemodal konten.

Jadwal perayaan AIFFA pada (4-6/05) mencakup maraton film-film international dan ASEAN di bioskop yang dipilih sekitar Kuching dan kafe crawl informatif di tiga kafe terpilih dengan para pembuat film sebagai pembicara. Acara ini terbuka bagi delegasi AIFFA yang ingin belajar,membangun Jaringan dan berbagi.

Kirimkan karya film terbaik anda,serta ikutlah dalam bagian perayaan film serta penghargaan, turut hadir dalam konferensi pers Bapak Hikmat Darmawan sebagai pengamat film dari Indonesia.Untuk lebih mengenal AIFFA kunjungi website www.aiffa2017.com. [fiq]