Hari Film Nasional Bersama Hardo Sukoyo

 

 
Menyambut hari film nasional, 30/04/2017 berlokasi di Gedung pertunjukan Usmar Ismail,sedang berlangsung acara “Usmar Ismail Awards” Penghargaan Insan Film Indonesia Sesungguhnya.
Mendapatkan kesempatan atas waktu dan obrolan hangat dengan seorang penulis, wartawan senior, pengamat film, kritik film dan kebijakan film nasional.
Beberapa tanya-jawab untuk merangkum, mengingat, membicarakan  dan moment sejarah tentang hari film nasional saat ini di Indonesia bersama dengan Bapak Hardo Sukoyo;
Bagaimana perkembangan film Indonesia saat ini?
1. Di tahun 2017 ,untuk produksi film di Indonesia ada 140 judul film, tetapi tidak semuanya film-film tersebut sukses dipasaran. Untuk kualitas bagus dan anak muda sekarang dalam penggunaan teknologinya sudah maju dan baik.

Kapan terakhir kali film Indonesia mendapatkan tempat penonton tertinggi di Indonesia?
2. Mulai tahun 2004, puncak tertinggi penonton pada film petualangan Sherina dan hal ini merupakan kebangkitan film Indonesia, antusias penonton sangat tinggi pada saat itu.

Lalu diikuti film laskar pelangi, film Rudi Habibie dan untuk saat ini pada film Warkop. Bagi saya, orang Indonesia sangat mencintai film Indonesia, hanya saja untuk gedung bioskopnya kurang banyak.

Mengapa film-film Indonesia tidak bisa bersaing dengan film di luar negeri?
3. Ada beberapa hal, terus terang kualitas film berbeda jauh, biaya pembuatan film di Hollywood sudah sampai nominal triliun dalam produksinya. Di Indonesia paling banyak 20 miliar, di luar negeri pasar filmnya dalam pasar dunia. Sumber daya manusia kita di Indonesia juga sangat bagus, apalagi kalau ada dukungan dalam hal pembiayaan pembuatan film.

Seperti film The Raid, mendapatkan kesuksesan walaupun ada sutradara warga negara asing, tetapi nyatanya SDM kita bisa dan mampu.

Apa yang membuat film di Indonesia bisa berjaya di dalam negeri sendiri ?

4. Harusnya ada pembinaan penonton, menjalankan pemutaran film di desa-desa lalu kampus-kampus,agar penonton tahu bahwa film Idonesia mempunyai film-film bagus,agar menumbuhkan kepada penonton untuk mencintai film Indonesia. Bagaimana caranya penonton anak-anak sekolah, Pramuka, Mahasiswa, Mahasiswi, lebih memahami serta mempunyai keinginan untuk lebih mencintai film Indonesia serta mendapatkan motivasi aku cinta film Indonesia.

Jangan hanya pembinaan dalam pembuatan film,itu sudah bagus. Kalau gedung bioskopnya kurang,ya kurang bagus.
Dimana menurut Bapak Hardo, tempat yang paling indah untuk membuat film Indonesia ?

5. Sebenarnya sangat banyak, Bali, Semarang, Lawang Sewu , Jawa barat, Bandung , hampir semua daerah Indonesia bisa di explore sebagai tempat untuk syuting film.
Apa sajakah kriteria film Indonesia yang layak untuk ditonton oleh khalayak ramai?
6. Jelas dalam film itu harus ada tiga kriteria, estetika yaitu keindahan, logika, etika. Dan juga film Indonesia harus membicarakan tentang Indonesia itu yang diajarkan usmar Ismail ,jadi tidak usah menggunakan judul-judul asing. Film yang namanya Wiji Tukul, Kabayan, angling Dharma juga bagus, semuanya mengandung kekayaan lokal, kekuatan lokal dan potensi lokal.
Film favorit apa yang terkenang sampai saat ini di dalam memori bapak?

7. Terus terang saya menyukai film-film teguh karya judul film November 28,Wim umboh judul film pengemis tukang becak, film Nyak ambo sapuh, tentang komedi situasi, seperti inem pelayan seksi yang mempunyai sifat menghibur, mamang Khairul Umam,saya rindu film seperti itu,filmnya banyak sekali, kalau untuk saat ini, Garin Nugroho , Hanung , Rudi Sujarwo ,Riri Reza,semuanya baik.
Apa pesan untuk generasi muda Indonesia yang bergiat dalam insani film?

8. Saya menyarankan Belajar, Belajar dan belajar. Ilmu dan teknologi sudah baik, maka galilah potensi Indonesia. Seperti kutipan dari Bung Karno, yaitu Trisakti, berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial. [fiq]